Energi Muda untuk Sukamekar: Visi Satria Satukan Inovasi Digital dan Kearifan Lokal

Desa Sukamekar bersiap menyambut babak baru demokrasi tingkat desa. Di tengah gelombang modernisasi dan tuntutan transparansi birokrasi, kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Sukamekar tahun ini menghadirkan fenomena menarik yang mencuri perhatian warga, terutama dari kalangan pemilih muda.
Satria Baitul Rahman, pemuda kelahiran 1997 yang kini genap berusia 29 tahun, secara resmi ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa Sukamekar dengan nomor urut 2. Kehadirannya memecahkan stigma bahwa panggung kepemimpinan desa adalah domain eksklusif generasi senior. Sebagai representasi Generasi Z, Satria maju membawa angin segar, energi baru, serta perspektif digital yang dinilai relevan dengan tantangan zaman.
Pengundian nomor urut yang berlangsung meriah di balai desa beberapa waktu lalu disambut antusias oleh para pendukungnya. Perolehan nomor urut 2 dimaknai oleh tim pemenangan sebagai simbol keseimbangan, kesinambungan, dan tanda peace atau perdamaian yang merangkul seluruh elemen masyarakat Sukamekar, baik tua maupun muda.
Ditemui usai penetapan nomor urut, Satria mengungkapkan bahwa keputusannya terjun langsung ke gelanggang politik desa didorong oleh panggilan jiwa untuk memajukan tanah kelahiran. Ia menilai Sukamekar memiliki potensi besar, baik dari segi sumber daya manusia maupun wilayah, yang belum tergarap secara maksimal.

“Nomor urut 2 adalah simbol kebersamaan. Ini bukan tentang saya, tapi tentang seluruh warga Sukamekar yang merindukan perubahan ke arah yang lebih baik dan inklusif. Sebagai bagian dari generasi muda, sudah kewajiban kami untuk turun tangan, bukan sekadar menonton,” ujar Satria penuh optimisme.
Dalam visi dan misinya, Satria memfokuskan diri pada tiga pilar utama pembangunan desa: digitalisasi pelayanan publik, transparansi anggaran dan pengelolaan dana desa, serta pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Ia bertekad memangkas birokrasi yang berbelit-belit melalui integrasi layanan administrasi desa berbasis digital, sehingga warga tidak perlu lagi menghabiskan waktu lama untuk mengurus keperluan kependudukan.
Selain itu, sektor kepemudaan dan pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian Sukamekar juga masuk dalam radar prioritas program kerjanya. Satria merancang program pelatihan kewirausahaan digital bagi karang taruna serta optimalisasi rantai pasok bagi para petani lokal agar produk-produk Sukamekar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Meski mengusung semangat modern, Satria tetap menegaskan pentingnya pendekatan kultural dan penghormatan kepada para tokoh masyarakat serta sesepuh desa. Ia menyadari bahwa memimpin desa membutuhkan perpaduan antara energi inovatif anak muda dan kearifan para pendahulu.
“Inovasi adalah kunci, tapi adat dan kearifan lokal adalah akar. Kami ingin membangun Sukamekar dengan cara-cara yang transparan dan akuntabel, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang sudah dijaga oleh para leluhur kita,” tambahnya.
Masyarakat Sukamekar kini menaruh harapan besar pada kontestasi Pilkades kali ini. Kehadiran sosok muda seperti Satria Baitul Rahman diharapkan mampu membawa dinamika positif, memicu partisipasi politik yang lebih luas dari kaum milenial dan Gen Z, serta membawa Desa Sukamekar melompat lebih maju di kancah regional.
Bagaimana kiprah sang kandidat muda bernomor urut 2 ini dalam merebut hati warga Sukamekar hingga hari pemungutan suara nanti? Waktu dan kerja nyata yang akan membuktikannya.