Update Selamat Datang di Kordinasi News - Media Informasi Terpercaya.

KEMENAG RI TEGASKAN KEBERAGAMAN ADALAH SUNATULLAH DALAM INTERNATIONAL YOUTH INTERFAITH DIALOGUE 2026 DI BEKASI

R
Redaksi kordinasi.id
05 May 2026
INTERNATIONAL YOUTH INTERFAITH DIALOGUE 2026


KORDINASI.ID | Bekasi — Semangat toleransi dan persaudaraan lintas iman mewarnai pelaksanaan International Youth Interfaith Dialogue 2026 yang digelar oleh Pemuda ICMI Kota Bekasi bekerja sama dengan Griya Moderasi Beragama Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA). Forum dialog antaragama internasional ini menghadirkan kalangan pemuda dari berbagai latar belakang keyakinan sebagai bagian dari upaya memperkuat moderasi beragama di Kota Bekasi.


Rangkaian kegiatan dibuka dengan Doa Bersama Lintas Agama yang dilantunkan bersama oleh para pemuda dari berbagai komunitas keagamaan — sebuah momen simbolis yang mencerminkan komitmen generasi muda Bekasi untuk merawat keharmonisan di tengah kemajemukan.
Ketua Panitia Reza Maulana Firdaus menyebut forum ini sebagai ruang terbuka bagi pemuda lintas agama untuk saling mengenal dan berdialog secara substantif demi masa depan kota yang lebih damai. Senada dengan itu, Ketua Pemuda ICMI Kota Bekasi, Imamuddin, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata peran organisasi dalam mendorong pemuda sebagai agen moderasi beragama, dari tingkat lokal hingga global.

Keberagaman Bukan Ancaman, Melainkan Ketetapan Tuhan
Sesi keynote speech menjadi salah satu puncak yang paling dinantikan dalam forum ini. Dr. H. Arsad Hidayat, Lc., MA., Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, tampil sebagai pembicara utama dan menyampaikan sejumlah poin yang mengundang perhatian serius para peserta.
Arsad menegaskan bahwa perbedaan keyakinan dan latar belakang manusia adalah ketetapan Tuhan atau Sunatullah. Mengutip Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa Tuhan sejatinya mampu menjadikan seluruh manusia satu umat, namun justru perbedaan diciptakan agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Pikiran untuk menyeragamkan negara menjadi satu agama tertentu bertentangan dengan hukum alam. Tidak boleh ada paksaan bagi pemeluk agama lain untuk berpindah keyakinan,” tegasnya di hadapan para peserta.

Indonesia Seperti Lukisan: Indah Karena Warna-Warni Perbedaan
Dalam paparannya, Arsad menyitir sebuah ilustrasi menarik dari Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, yang mengibaratkan Indonesia seperti sebuah lukisan.
“Lukisan tidak akan indah jika hanya berwarna putih saja. Keindahan Indonesia justru lahir dari perpaduan warna-warna perbedaan agama, suku, dan bahasa,” ujar Arsad menyampaikan analogi sang Menteri.


Ia juga meluruskan persepsi keliru yang kerap beredar di masyarakat, dengan menegaskan bahwa Kementerian Agama bukan kementerian eksklusif milik umat Islam semata. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan Direktorat Jenderal untuk Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta pusat bimbingan Konghucu di bawah naungan kementerian yang sama.

Program Prioritas Kerukunan 2024–2029 dan Tiga Pilar Persatuan
Arsad turut memaparkan program prioritas Kemenag periode 2024–2029 yang berfokus pada peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Salah satu contoh nyata yang ia sebutkan adalah program “Rumah Ibadah Ramah Pemudik” — sebuah inisiatif di mana masjid, gereja, dan vihara saling membuka pintu untuk membantu para pemudik tanpa memandang latar belakang agama mereka.


Dalam membangun fondasi persatuan bangsa, Arsad menyebut tiga pilar utama yang terus digaungkan Kemenag, yakni:
Pertama, Toleransi — menghormati setiap perbedaan sebagai bagian dari realitas kehidupan bersama. Kedua, Ukhuwah — membangun persaudaraan kebangsaan (wathaniyah) sekaligus persaudaraan kemanusiaan (basyariyah) yang melampaui sekat-sekat agama. Ketiga, Gotong Royong — mewujudkan kerja sama lintas iman dalam aksi sosial kemasyarakatan yang nyata dan berdampak.

Pesan untuk Pemuda: Jangan “Mager”, Terus Berkarya
Mengakhiri paparannya, Arsad menyampaikan pesan khusus kepada seluruh pemuda yang hadir.
“Jangan mager — jangan malas bergerak. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan yang akan menjaga keberagaman Indonesia. Teruslah berkarya dan berkontribusi,” pesannya disambut tepuk tangan para peserta.

International Youth Interfaith Dialogue 2026 diharapkan tidak berhenti sebatas forum seremonial, melainkan menjadi titik awal lahirnya gerakan nyata pemuda lintas agama dalam menjaga kohesi sosial dan memperkuat moderasi beragama di Kota Bekasi dan Indonesia pada umumnya.

Bagikan Berita Ini:
Tags:

Berita Terkait