Update Selamat Datang di Kordinasi News - Media Informasi Terpercaya.

Ketika Ambulans Menjadi Baliho Calon Kades

R
Redaksi kordinasi.id
08 August 2026



KORDINASI.ID  | SUKABUDI – BEKASI _Membaca Foto Calon Kades di Ambulans Desa dalam Perspektif Nurani Rakyat_

Ada kalanya negara berbicara lewat aturan, lewat sumpah jabatan, lewat pelayanan.
Namun, ada kalanya rakyat dipaksa melihat wajah negara dari tempat yang tidak seharusnya: bodi sebuah ambulans.

Ambulans itu seharusnya netral. Ia milik rakyat sakit, milik darurat, milik nyawa.
Tapi malam itu, di Pasirgombong, ia berubah fungsi. Bodi merahnya bukan lagi lambang kemanusiaan. Ia jadi papan pengumuman politik.

Wajah seorang calon Kades terpampang besar, berseragam, tersenyum, melambai.
Seolah ambulans itu bukan milik desa. Seolah mobil itu dibeli dari kantong pribadi.

Kalimatnya mungkin tidak tertulis. Tapi pesannya jelas:
_”Kalau mau ditolong cepat, ingat siapa yang nolong.”_

Padahal ambulans itu dibeli pakai uang rakyat. .

Di sinilah lukanya.

Rakyat tidak pernah minta ambulans dijadikan alat kampanye.
Mereka hanya minta satu: saat anaknya sesak, saat orang tuanya stroke, saat tengah malam butuh ke RS… mobil itu datang.

Tanpa tanya “kamu pilih siapa?”
Tanpa harus lihat wajah siapa di bodi mobil.

Ironinya, mereka yang mengaku “pelayan rakyat” justru menjadikan alat pelayanan sebagai alat pencitraan.

Dalam bahasa sederhana: ini namanya pelanggaran.
Melanggar etika. Melanggar aturan. Melanggar rasa.

Ambulans berubah jadi baliho berjalan.
Rumah sakit berubah jadi panggung kampanye.
Darurat berubah jadi momentum politik.

Dan rakyat?
Rakyat hanya bisa diam sambil menggendong orang sakit, berharap mobil itu tetap mau jalan…
meskipun wajah di bodinya bukan malaikat penolong, tapi calon pejabat.

Mungkin ini yang disebut:

*”SALAM WARAS DI DESA YANG SAKIT”*

Sakit, karena alat untuk menyelamatkan nyawa…
dipakai untuk menyelamatkan suara.

Bagikan Berita Ini:
Tags:

Berita Terkait